Karakteristik Budaya Kabupaten Kaur, kampung halaman ku.

Kabupaten Kaur merupakan daerah yang mempunyai keragaman suku bangsa (etnik) yang secara toleran mampu hidup berdampingan dan menyebar di seluruh kabupaten (hahhaa bangga gw..). Keunikan dari heterogenitas masyarakat salah satunya karena letak gegrafis Kabupaten Kaur, yakni antara lingkungan daratan dan lautan, sehingga hidup masyarakat bergantung pada kedua wilayah tersebut.

Penduduk asli Kaur sulit untuk diketahui jumlahnya, karena belum pernah dibagi menurut penggolongan suku bangsanya. Struktur masyarakat Kabupaten Kaur paling tidak terdiri dari dua (2) suku asli, yaitu Serawai dengan marga Kaur, Luas dan Nasal dan suku Semendo/Pasemah dengan marga Sahung dan Padang Guci yang merupakan bagian dari etnis-etnis besar yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Suku Serawai kebanyakan tinggal di daerah Kaur Tengah dan Kaur Selatan, sedangkan suku Semendo/Pasemah tinggal di daerah Kaur Utara dan sebagaian kecil di daerah Kaur Tengah (Muara Sahung).
Adat budaya suku asli lebih dekat ke daratan menyebabkan pemanfaatan wilayah pesisir oleh masyarakat kurang mendapat perhatian. Mereka lebih cenderung untuk mengelolah lahan pertanian dan perdagangan dengan berbagai tanaman pangan dan perkebunan.

Suku Jawa, Batak, Minang, dan Lampung merupakan pendatang di Kabupaten Kaur. Sebagian besar suku Jawa merupakan transmigran yang tinggal di beberapa unit pemukiman transmigrasi, baik yang masih dalam pembinaan maupun telah menjadi desa definitif. Suku Batak dan Minang merupakan transmigran spontan, dimana suku Batak dan suku Minang datang karena berdagang. Demikian juga suku Lampung yang berdampingan dengan Kabupaten Kaur yang datang untuk mencari pekerjaan dan akhirnya menetap di Kaur.

http://kabkaur.blogspot.com/
READ MORE - Karakteristik Budaya Kabupaten Kaur, kampung halaman ku.

Saudaraku Jangan Cepat-cepat Sholatnya

Sebuah fenomena yang memprihatinkan, ketika seseorang sedemikian tangkas dan cekatannya menyelesaikan sholat dalam waktu yang demikian singkat, sehingga seakan-akan dengan semakin beranjaknya usia merambat, semakin tinggi ‘jam terbangnya’, semakin terlatih pula ia menyelesaikan sholat dengan catatan waktu tercepat. Subhaanallaah…!

Semangat beribadah yang tinggi pada bulan Ramadlan, dengan sholat tarawihnya sering dijadikan sebagai sarana olahraga alternatif karena dengan kecepatan di atas rata-rata, amalan sholat-yang seharusnya demikian suci dan mulya- menjadi lebih mirip gerakan-gerakan senam tempo tinggi. Maasyaa Allaah !

Sering pula bacaan AlFatihah dan surat yang dibaca imam demikian cepatnya, sehingga sang imam tidak merasa perlu untuk ‘menghidangkan’ bacaan tartil yang menghantarkan makmum pada kekhusyu’an. Sang imam juga tidak merasa terbebani untuk memperdengarkan bacaan tersebut karena memang yang ada dalam benaknya adalah sesegera mungkin menyelesaikan rutinitas tersebut.

Saudaraku kaum muslimin, fenomena yang dipaparkan di atas bukanlah suatu hal yang mengada-ada. Fenomena yang menyedihkan dan merupakan musibah tersebut masih banyak ‘mewarnai’ lingkungan kita. Bukan hanya pada lingkungan orang-orang awam, di lingkungan pondok pesantren pun bukan suatu hal yang asing jika kita dapati seorang imam mengimami sholat dengan kecepatan yang tinggi. Terlebih lagi pada sholat-sholat sirriyah saat Imam tidak memperdengarkan bacaan-bacaan Qur’annya kepada makmum. Belum sempat makmum menunaikan gerakan ruku’, sang imam sudah i’tidal, kemudian sujud ‘ala kadarnya’ seperti seekor gagak atau ayam yang mematuk biji-bijian. Subhaanallaah!

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍٍ يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ مَثَلُ الَّذِيْ لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِيْ سُجُوْدِهِ مِثْلُ اْلجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

“ Dari Abu Abdillah al-Asy’ari radliyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya, dan waktu sujud (dilakukan cepat seakan-akan) mematuk dalam keadaan dia sholat. Maka Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya “(H.R Abu Ya’la,al-Baihaqy, at-Thobrony, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan dihasankan oleh Syaikh AlAlbaany)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ نَهَانِيْ خَلِيْلِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنْ أَنْقُرَ فِيْ صَلاَتِيْ نَقْرَ الدِّيْكِ وَأَنْ أَلْتَفِتَ إِلْتِفَاتَ الثَّعْلَبِ وَ أَنْ أُقْعِيَ إِقْعَاءَ الْقِرْدِ

“ Dari Abu Hurairah beliau berkata : “Sahabat dekatku, (Nabi Muhamamd shollallaahu ‘alaihi wasallam) melarangku sujud dalam sholat (dengan cepat) seperti mematuknya ayam jantan, melarangku berpaling (ke kanan atau ke kiri) seperti berpalingnya musang, dan melarangku duduk iq-aa’ seperti kera “(H.R Thayalisi, Ahmad, dan Ibnu Abi Syaibah, dihasankan oleh Syaikh Al-Albaany)

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

“ Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari sholatnya. (Para Sahabat bertanya) : Bagaimana seseorang bisa mencuri dari sholatnya? (Rasul menjawab) : ‘ Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya “ (H.R Ahmad dan At-Thobrony, al-Haitsamy menyatakan bahwa para perawi hadits ini adalah perawi-perawi hadits shohih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)

Bahkan, tergesa-gesa dalam melakukan sholat sehingga gerakan-gerakan ruku’ dan sujud tidak dikerjakan secara thuma’ninah bisa berakibat pada tidak sahnya sholat, sebagaimana disebutkan dalam hadits :


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ اْلمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلاَثًا فَقَالَ وَالَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِيْ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“ Dari Abu Hurairah : bahwasanya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, kemudian masuk pula seorang laki-laki, kemudian laki-laki itu melakukan sholat kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam. Nabi menjawab salam tersebut kemudian mengatakan kepadanya : ‘Kembalilah ulangi sholat, karena sesungguhnya engkau belum sholat’. Maka kemudian laki-laki itu mengulangi sholat sebagaimana sholatnya sebelumnya, kemudian ia mendatangi Nabi dan mengucapkan salam, kemudian Nabi mengatakan : ‘Kembali ulangilah sholat karena engkau belum sholat ‘ (Hal ini berulang 3 kali). Maka kemudian laki-laki itu mengatakan : ‘Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan lebih baik dari sholatku tadi, maka ajarilah aku’. Rasul bersabda :’Jika engkau berdiri untuk sholat, bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an, kemudian ruku’lah sampai engkau thuma’ninah dalam ruku’,kemudian bangkitlah dari ruku’ sampai engkau thuma’ninah beri’tidal, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud sampai engkau thuma’ninah dalam sujud,kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud,kemudian bangkitlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk, dan lakukanlah hal yang demikian ini pada seluruh sholatmu “(H.R Al-Bukhari-Muslim)

Maka wajib bagi kita untuk mengerjakan sholat dengan thuma’ninah dan tidak tergesa-gesa karena hal tersebut merupakan salah satu rukun sholat, yang jika tidak terpenuhi menyebabkan batalnya sholat. Dalam hadits di atas Rasulullah memerintahkan kepada seseorang tersebut untuk mengulangi sholatnya.

Mari kita kerjakan sholat dengan tenang dan nikmatilah! Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk mempersembahkan amal ibadah yang terbaik kepadaNya, dan menjadikan sholat sebagai sarana penyejuk jiwa, penjernih kalbu, pelapang dada, penghilang kesedihan dan yang mampu mendatangkan ketenangan batin, sebagaimana Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyatakan :

جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصّلاَةِ

“ Dijadikan penyejuk jiwaku ada dalam sholat” (H.R Ahmad dan AnNasaa’i, dishohihkan oleh Syaikh AlAlbaany)

Namun yang jauh lebih besar dari itu yang kita harapkan adalah keridlaan, pahala, ampunan, dan rahmat dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Ditulis oleh Abu Utsman Kharisman untuk Situs Darussalaf.or.id
READ MORE - Saudaraku Jangan Cepat-cepat Sholatnya

BERSAHUR DAN BERIFTHAR (BERBUKA) MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Sahur dan ifthar (berbuka) merupakan dua prosesi yang cukup berarti dalam keberlangsungan shaum seseorang. Ia tidak hanya sekedar makan dan minum, namun ia justru sebagai ibadah yang membedakan antara kita (kaum muslimin) dengan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashoro). Sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Amr bin Ash bahwa Rasulullah bersabda :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَ صِيَامِ أَهْلِ اْلكِتابِ أَكْلَة السَّحَر

“Pembeda antara shaum kita dengan shaumnya Ahlul Kitab (adalah) adanya makan sahur.” (H.R Muslim)

A. TUNTUNAN RASULULLAH DALAM BERSAHUR


Perlu kita ketahui bahwa makan sahur adalah sesuatu yang disunnahkan dan mengandung barokah yang banyak sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya pada makan sahur terdapat barokah.” (Muttafaqun ‘alaihi) Al Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id menyimpulkan bahwa barakah makan sahur ada yang bersifat kebaikan duniawi dan ada yang bersifat kebaikan ukhrawi. (Fathul Baari hadits no. 1923)

Di antara barakah tersebut adalah :

1. Ittiba’ As-Sunnah (mengikuti jejak Rasulullah ),
2. Membedakan diri dengan Ahlul Kitab,
3. Memperkuat diri dalam ibadah shaum,
4. Mencegah timbulnya akhlak yang jelek seperti marah dan lainnya dikarenakan rasa lapar,
5. Membantu seseorang untuk bangun malam dalam rangka berdzikir dan berdo’a di waktu yang mustajab,
6. Membantu seseorang untuk niat shaum bagi yang lupa berniat sebelum tidur.

1. Mengakhirkan Sahur dan Jarak (Waktu) antara Sahur dengan Shalat Shubuh



Mengakhirkan sahur termasuk sunnah Rasulullah . Hal ini tentunya sangat berbeda dengan kebiasaan kebanyakan kaum muslimin yang bersahur jauh sebelum munculnya fajar shadiq (fajar kedua, pertanda masuknya waktu shalat shubuh). Shahabat Anas bin Malik dan Zaid bin Tsabit berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِي ثُمَّ قَامَ إلى الصَّلاةِ قُلْتُ : كمْ كانَ بَيْنَ الأذانِ وَالسَّحُورِ ؟ قال : قَدْرَ خَمْسِيْنَ آيَــة

“Kami makan sahur bersama Nabi kemudian beliau berdiri untuk shalat shubuh, saya (Anas bin Malik) bertanya kepadanya: berapa jarak antara adzan dengan sahur Beliau menjawab: kurang lebih sepanjang bacaan lima puluh ayat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2. Kapan waktu akhir makan sahur dan bagaimanakah imsak menurut syariat Islam



Waktu terakhir untuk makan sahur telah ditentukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yaitu dengan terbit dan jelasnya fajar shodiq (fajar kedua, pertanda masuknya waktu shubuh) sebagaimana firman Allah :

وَكلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكمُ الخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الفـَجْرِ

“Silahkan kalian makan dan minum sampai nampak dengan jelas cahaya fajar.” (Al-Baqarah : 187)
Sebagaimana pula dalam hadits ‘Aisyah:

إنَّ بلاَلاً كَانَ يُؤَذنُ بِلَيْلٍ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذنَ اِبْنُ أمِّ مَكتُومٍ فَإنَّهُ لا يُؤَذنُ حَتَّى يَطلُعَ الفَجْرُ

“Sesungguhnya Bilal beradzan di malam hari, maka berkata Rasulullah : Silahkan kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan, sesungguhnya dia tidak beradzan kecuali setelah terbit fajar.” (H.R Al Bukhari )
Berdasarkan dalil-dalil dan penjelasan di atas, maka imsak tidak ada tuntunannya dari Rasulullah , sehingga walaupun pengumuman imsak telah dikumandangkan , sedangkan fajar shodiq (fajar kedua, pertanda masuknya waktu shubuh) belum tampak, maka masih di perbolehkan bagi kaum muslimin untuk makan sahur.

3. Bersahur dengan Tamr (Kurma)


Sebaiknya dalam hidangan sahur terdapat tamr karena Nabi bersabda:

نِعْمَ سَحُوْرُ المُؤْمِنِ التَّمْرُ

“Sebaik-baik makanan sahur seorang mu’min adalah tamr”. (H.R. Abu Dawud dan yang lainnya, lihat Ash Shohihah no. 562)

B. TUNTUNAN RASULULLAH DALAM BERIFTHAR



1. Kapan Diperbolehkan Berifthar



Al-ifthar boleh dilakukan bila telah masuk waktu malam sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إلَى اللَّيْلِ

“Kemudian sempurnakanlah shaum sampai malam hari.” (Al-Baqarah: 187)

Yang mana ayat ini telah ditafsirkan oleh Rasulullah bahwa hal itu terjadi apabila telah muncul kegelapan malam dan telah hilang cahaya siang serta tenggelamnya matahari, sebagaimana hadits Abdullah bin Abu Aufa berkata:

كنَّا مََعَ رَسُولِ اللهِ فِي سَفَرٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَلمَّا غَابَتِ الشَّمْسُ قال يَا فُلانُ اِنْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا قال يَا رَسُولَ اللهِ إنَّ عَلَيْكَ نـَهَارًا قال اِنْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا فَنَزَلَ فَجَدَحَ فَأتَاهُ بِهِ فَشَرِبَ النَّبِي صلى الله عليه و سلم ثُمَّ قال بِيَدِهِ : إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَهُناَ وَجَاءَ اللـَّيْلُ مِنْ هَهُنـَا فَقَدْ أفْطرَ الصَائِمُ

“Kami bersama Rasulullah di dalam sebuah perjalan di bulan Ramadhan, ketika matahari telah terbenam, beliau berkata (kepada salah seorang shahabatnya): Wahai fulan turunlah (dari kendaraanmu) dan siapkan makanan untuk kami. Shahabat tadi Berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau masih di siang hari. Berkata Rasulullah turunlah dan siapkan makan untuk kami! Kemudian orang tersebut turun lalu mempersiapkan makanan dan menghidangkannya kepada Rasulullah , beliau pun kemudian minum seraya berkata sambil menunjuk dengan tangannya: “Jika telah tenggelam matahari dari arah sini (barat) dan telah muncul kegelapan malam dari arah sini (timur) maka telah boleh berbuka bagi orang yang shaum.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

2. Dengan Makanan Apa Seorang Berifthar



Sebaiknya bagi seorang yang shaum agar berifthar (berbuka) dengan ruthob (kurma setengah matang), kalau tidak mendapatkannya boleh dengan tamr (kurma yang masak), kalau tidak ada boleh dengan air, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik, bahwasanya beliau bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللهِ يُفْطِرُ عَلى رُطبَاتٍ قَبْلَ أنْ يُصَلِّيَ فَإنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فإنْ لَمْ يَكـُنْ تَمَرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Bahwasanya Rasulullah dahulu berbuka (berifthar) sebelum maghrib dengan beberapa ruthob, jika tidak mendapatinya maka dengan kurma yang sudah matang, kalau tidak mendapatinya maka dengan meneguk air beberapa tegukan.”(Shohih Sunan Abu Dawud hadits no. 2356)

3. Doa Ketika Berifthar


Telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al Hakim dari shahabat Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bila berifthar mengucapkan:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله ُ

“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat dan tercatatlah al-ajr (balasannya) insya Allah. (Shahih Sunan Abu Dawud (no.2357).

4. Menyegerakan Berifthar


Menyegerakan ifthar merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Rasulullah dan dicontohkannya sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Abu Aufa yang telah lalu. Dan hadits Sahl bin Sa’d bahwa Rasulullah bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِطرَ

“Kaum muslimin akan selalu berada dalam kebaikan (kemuliaan) selama mereka masih menyegerakan al-ifthar.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Al Imam Ibnu Daqiq Al-Id menegaskan bahwa penundaan al-ifthar merupakan kebiasaan kelompok sesat Syi’ah, yang mana mereka selalu menunggu munculnya bintang-bintang di langit (sebagai tanda awal berifthar bagi mereka -pen) dan ini menyelisihi sunnah Rasulullah. Sebagaimana hadits dari sahabat Sahl bin Sa’d:

لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ

“Umatku akan senantiasa di atas sunnahku, selama mereka tidak menunda iftharnya sampai munculnya bintang-bintang.” (H.R. Ibnu Hibban, lihat Fathul Bari hadits no. 1957)

HADITS HADITS PALSU ATAU LEMAH YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT

ثَلاَثَةٌ لَيسَ عَلَيْهِمْ حِسَابٌ فِيْمَا طَعِمُواْ إِذَا كَانَ حَلاَلاً ، الصَّائِمُ وَ الْمَتَسَحِّرُ وَ المُرَابِطُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Tiga golongan yang tidak ada hisab (dosa) atas mereka dari apa-apa yang mereka santap selama dari yang halal, yaitu: orang yang shaum (saat berifthar), orang yang bersahur, dan orang yang ribath (jaga) di jalan Allah”. (H.R Ath Thabrani)
Keterangan:
Hadits ini madhu’ (palsu), karena ada seorang rawi yang dikenal sebagai pendusta yaitu Abush Shabah.
Asy Syaikh Al Albani berkata: “Diantara pengaruh buruk dari hadits ini adalah apa yang terjadi pada kebanyakan kaum muslimin saat ini. Tidaklah mereka berhenti dari berifthar kecuali menjelang sholat isya’. Hal ini dikarenakan tersibukkan oleh banyaknya hidangan ifthar dari berbagai macam makanan, minuman, buah-buahan dan yang lainnya !, Bagaimana tidak, karena ada hadits palsu: “Tiga golongan yang tidak ada hisab (dosa) atas mereka dari apa-apa yang mereka santap … (seperti hadits diatas –pen)”. Dengan kebiasaan seperti ini akhirnya mereka terjatuh ke dalam dua perbuatan yang dilarang di dalam Al Qur’an dan As Sunnah yaitu berlebihan (di saat berifthar) dan mengakhirkan shalat maghrib.
Rasulullah bersabda:

لاَ تَزَالُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ أَوْ عَلَى الْفِطْرَةِ مَا لَمْ يُؤَخِّرُواْ المَغْرِبَ إِلَى أَنْ تَشْتَبِكَ النُّجُوْمُ

“Senantiasa umatku dalam keadaan baik atau diatas fitrah selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai munculnya bintang-bintang”.
Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi. (Lihat Silsilah Adh Adha’ifah no. 631, karya Asy Syaikh Al Albani)
Wallahu a’lam bish – shawab

Sumber http://assalafy.org
READ MORE - BERSAHUR DAN BERIFTHAR (BERBUKA) MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Artikel terbaik tentang puasa

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadis bahwa dengan puasa kita belajar mengendalikan hawa nafsu serta mengendalikan setan yang menipu dan menjebak kita. Pada waktu kita puasa, kita membelenggu setan, membuka pintu surga dan menutup pintu neraka.

Kita belajar menahan setan supaya tak masuk ke dalam tubuh kita. Salah satu pintu masuk setan ke dalam tubuh kita adalah melalui makan dan minum. Kita tutup pintu-pintu itu pada waktu siang hari. Kita melemahkan setan; membuatnya tak berdaya. Puasa adalah latihan mengendalikan hawa nafsu.

Di dalam tarekat, puasa adalah upaya mengendalikan diri kita secara lahiriah dan secara batiniah. Secara lahiriah, kita mengendalikan diri dengan mempuasakan seluruh panca indera kita. Dalam ilmu kebatinan, ketika kita melakukan semedi, kita harus menutup tujuh pintu masuk setan. Tujuh pintu itu adalah tujuh lubang dalam tubuh kita. Di antaranya mata, telinga, mulut, dan hidung. Dengan cara itu, kita dapat masuk ke dalam alam kesucian.

Secara lahiriah, puasa yang pertama di dalam tarekat adalah puasa menutup mulut kita atau puasa bicara. Puasa bicara bukan berarti meninggalkan pembicaraan yang kotor atau menggunjing orang lain. Dalam hadis Shahih Bukhari, Rasulullah saw bersabda, "Tidak dihitung mukmin, orang yang suka melaknat orang lain, suka menyakiti hati orang lain, atau berkata kotor." Ketika kita tak berpuasa pun, hal itu tidak boleh dilakukan, apalagi ketika kita sedang berpuasa. Yang dimaksud dengan puasa bicara adalah setelah meninggalkan pembicaraan tersebut di atas, kita menambah atau memperlebar puasa bicara kita dengan tidak membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Kita tidak berbicara yang tidak berguna. Ciri mukmin yang sejati adalah menghindarkan pembicaraan yang tidak ada manfaatnya.

Yang dimaksud dengan manfaat di dalam hal ini adalah mendekatkan diri kepada Allah swt. Perkataan yang tidak membawa kita dekat kepada Allah swt adalah perkataan yang tidak bermanfaat. Hentikanlah perkataan seperti itu di dalam bulan puasa. Sebaiknya kita gantikan obrolan kita dengan memperbanyak dzikrullah, zikir kepada Allah swt.

Mengobrol tanpa menggunjingkan atau menyakiti orang lain memang diperbolehkan dalam agama. Tidak ada salahnya dalam hal itu. Tapi alangkah lebih baiknya bila waktu mengobrol itu kita ganti dengan berzikir kepada Allah.

Kita mengurangi suara mulut kita. Jika mulut kita terlalu banyak bicara, kita takkan sanggup lagi mendengarkan suara hati nurani kita. Siti Maryam as dalam Al-Quran dikisahkan pernah berpuasa tidak bicara. Ketika Maryam hilang dari kampung halamannya dan kembali setelah sekian lama dengan seorang bayi, orang-orang bertanya, "Hai saudara perempuan Harun, kau pulang dengan sesuatu yang aneh. Padahal kami mengenal engkau bukan sebagai perempuan nakal, melainkan perempuan saleh. Mengapa tiba-tiba kau pulang membawa anak?"(QS. Maryam: 28) Siti Maryam as diperintahkan Allah untuk puasa bicara. Ia disuruh untuk tidak menanggapi tuduhan yang macam-macam itu. Maryam hanya menjawab, "Aku sudah bernadzar kepada Allah yang Mahakasih bahwa hari ini aku tidak akan berbicara kepada seorang manusia pun." Maryam berjanji kepada Allah untuk berpuasa bicara. Karena Maryam puasa bicara, maka ia mampu mendengar suara bayi dalam kandungannya. Waktu itu juga, ketika Maryam membawa anak kecil, bayi itulah yang menjawab hujatan orang-orang. Bayi itu menjawab, "Salam bagiku ketika aku dilahirkan ketika aku mati dan pada waktu aku dibangkitkan nanti."(QS. Maryam: 33)

Menurut Sayyid Haidar Amuli, bila kita terlalu banyak bicara, kita takkan mampu untuk mendengarkan isyarat-isyarat gaib yang datang kepada kita. Kita juga menjadi tak sanggup mendengar kata-kata hati nurani kita. Suara mulut kita terlalu riuh sehingga isyarat-isyarat dari alam malakut (alam ruh) tak terdengar oleh batin kita. Kita terlalu banyak mendengarkan suara kita sendiri.

Puasa bicara diajarkan di dalam Al-Quran khusus kepada orang-orang saleh yang tidak hanya menjalankan syariat saja tetapi juga ingin memperindah syariatnya dengan usaha lebih lanjut. Puasa tarekat tidak berarti meninggalkan puasa syariat. Puasa tarekat adalah memperindah puasa syariat; menghiasnya agar lebih bagus.

Ketika kita berpuasa, setelah kita meninggalkan kata-kata kotor dan menyinggung perasaan orang, kita juga meninggalkan kata-kata yang biasa-biasa. Hanya supaya pembicaraan kita tidak mengambil alih zikir yang seharusnya kita lakukan di bulan Puasa. Nabi Zakaria as, ketika diberitahu bahwa ia akan mempunyai anak yang bernama Yahya, merasa amat bahagia karena dalam usianya yang amat tua, ia belum juga dikaruniai seorang putra. Zakaria as sering berdoa, "Tuhanku, sudah rapuh tulang-tulangku, sudah penuh kepalaku dengan uban, tapi aku tak putus asa berdoa kepada-Mu." (QS. Maryam: 4) Satu saat, Tuhan menjawab, "Aku akan memberi kepadamu seorang anak." (QS. Maryam: 7) Zakaria as hampir tidak percaya, "Bagaimana mungkin aku punya anak, ya Allah. Padahal istriku mandul dan aku pun sudah tua renta." (QS. Maryam: 8) Lalu Tuhan menjawab, "Hal itu mudah bagi Allah. Bukankah kamu pun asalnya tiada lalu Aku ciptakan kamu." (QS. Maryam: 9) Zakaria masih penasaran dan ia minta kepada Allah, "Apa tandanya, ya Allah?" Tuhan menjawab, "Tandanya ialah kau harus puasa bicara. Kau tidak boleh berkata kepada seorang manusia pun selama tiga hari berturut-turut." (QS. Maryam: 10)

Zakaria as diperintahkan Tuhan untuk mensyukuri nikmat yang diterimanya dengan berpuasa bicara. Itulah juga nasihat kepada seorang suami yang istrinya sedang mengandung; belajarlah puasa bicara. Usahakan sesedikit mungkin berbicara. Insya Allah, jika selama istri kita mengandung, kita berpuasa bicara, maka Allah akan memberikan kepada kita seorang anak seperti Yahya yang cerdas, arif, berhati lembut dan suci, bertakwa kepada Allah swt, dan sangat berkhidmat kepada orang tuanya, tak pernah memaksakan kehendaknya. Itulah ganjaran kepada orang yang puasa bicara.

Puasa bicara adalah puasa tarekat. Hanya dengan puasa bicara, batin kita menjadi lebih tajam untuk mendengarkan isyarat-isyarat gaib, mendengarkan hati nurani. Ketika kita terlalu banyak bicara, kita menjadi tuli. Dalam peristiwa mikraj diceritakan ketika Nabi Muhammad saw isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, beliau melihat di pertengahan jalan ada seorang yang mengguntingi lidahnya berulang kali. Malaikat Jibril menjelaskan, "Itulah tukang-tukang ceramah yang suka memberikan nasihat kepada orang banyak tetapi ia tidak mempraktikkan apa yang ia khotbahkan."

------
Ceramah KH. Jalaluddin Rakhmat pada Pengajian Ahad di Masjid Al-Munawwarah, tanggal 13 Desember 1998. Dengan beberapa perubahan redaksional, ceramah ini ditranskrip oleh Ilman Fauzi R.
READ MORE - Artikel terbaik tentang puasa

Kumpulan kata-kata ucapan bulan ramadhan

Dalam menyambut bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba pastinya kita semua ingin melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan sempurna. Biasanya sebelum ramadhan menjelang kita melakukan silaturrahim untuk memohon maaf agar puasa yang kita lakukan nantinya sempurna. Sedangkan untuk yang berjauhan ckup silaturrahim dengan pesan singkat, disini saia mencoba berbagi beberapa ucapan bulan ramadhan yang terkumpul dari beberapa sms maupun dari teman-teman.

Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh, jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung, jika hati seindah bulan hiasilah dengan iman, kini ramadan akan tiba sebulan lagi, dgn kerendahan hati maafkanlah segala kesalahan marhabn ya ramadhan, allahumma bariklana fi-sya’ban wa ballighna ramadhan, 1430H

Welcome 2 Ramadhan Great Sale !!!
Jangan Lewatkan :
Obral Pahala besar – besaran
Discount Dosa s.d 99 %
+ Door Prize “Lailatul Qodr”
Hanya 30 Hari selama bulan Ramadhan
Marhaban ya Rmadhan, selamat menunaikan ibadah puasa

Matahari berdzikir, angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu.
Semua menyambut datangnya Seribu Bulan.
Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Marhabban ya …Ramadhan 1429 H, memohon maaf lahir batin dan mengucapkan…
“BBM” Bulan Berkah & Maghfira
kita tingkatkan “PREMIUM” Pree Makan & Minum, “SOLAR” ShOlat LAncar dan Rajin, “MINYAK TANAH” Meningkatkan Iman baNYAK TAhan Nafsu dan amarAH
“PERTAMAX” PERangi TAbiat MAXiat, “BENSIN” BEnahi Norma Spiritual secara INtelek serta “PERTAMINA” PERlunya kTAhanan Mental & INstropeksi Aqidah

Anak Nelayan mengail ikaN, Perahu berlabuh ketengah LautaN,
sAMBIL manunggu datangnya Bulan Ramadhan
Gak ada salahnya kan aku mInta maaf DuluaN ^-^

Halo FREN, walaupun jangkauan tak seluas XL
pikiranku tak seluas MENTARI, tapi aku selalu CERIA dan SIMpati.
Melalui celah” sinyal & Gelombang, terimalah ungkapan maaf dari Kami

Ass Wr wB Saudaraku yang akan menjalankan ibadah puasa.
Jangan lupa setting NIAT,
Upgrade IMAN,
Download SABAR,
Delete DOSA,
Approve MAAF & Hunting PAHALA.
Agar pulang ke kampung SURGA dengan mobil JIHAD
dengan Bahan bakar ISTIQOMAH dengan supir IKHLAS
Lewat jalan IMAN.
Jangan lupa bawa peta QURAN & SUNNAH
dengan bekal TAQWA..
Maafkan segala dosaku ya teman….

wAKTU mENGALIR bagaikan aiR, Ramadhan Suci segera HadiR,
aDA Luka yang pernah teruKIR, Ada khilaf yang Sempat TerguliR,
Mohon Maaf Lahir Bathin

Ada Buaya Beli PulsA.., Ga kerasa dah mau puasA…
Ada Hiu mkn PepayA.., Maafin aku yA…
Ada Udang mendeM dikuE…, Jangan sampe Da Dendem yeE…

Tiada Cinta seindah cinta Ilahi…
Tiada rndu sedlm rindu Rasulullah…
tiada suara semerdu Dzikir…
tiada hari sesuci Ramadhan..
MHn dibuka Pintu maaf
READ MORE - Kumpulan kata-kata ucapan bulan ramadhan

Misteri Kehidupan

Perkiraan yang tak sejalan,
Aku Berfikir dengan kebimbangan,
Di mana jalan ku???
dan apa harapan ku???

Bingung... Bingung.... dan Bingung...
kelam... Kelam... Kelam yang mencekam... dan akhirnya padam....
Pernahkah ku pinta jalan ini???
Jalan yang benar-benar mengatakan
aku memang bodoh pada dunia...
tolong buka mata ku!!!
Tunjukan lah..!!!
Tega nya kau buat aku terus mengorbankan perasaan ini???
Bantu aku, angkat kabut mendung itu...
Sampaikan salam ku pada mentari,kata kan!!! "aku menantinya!!!"

"luangkan sedikit waktu untuk menulis kata yang bermakna"

"Rahasia terbesar dalam hidup adalah melewati hari ini dengan penuh makna tentang cinta, ilmu dan iman. Karena dengan cinta hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan iman hidup menjadi terarah"
READ MORE - Misteri Kehidupan

Musuh Yang Paling Berbahaya: Penakut Dan Bimbang

Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh. - Andrew Jackson
READ MORE - Musuh Yang Paling Berbahaya: Penakut Dan Bimbang

Mengeluh, Menyerah dan Bangkit

Saya suka sekali kata bijak satu ini, karena sering mengalaminya sendiri juga dan teman ternyata memang bisa berpengaruh sangat besar. Berikut ini kalimat mutiaranya:

Dalam kehidupan, manusia terkadang mudah mengeluh dan menyerah pada keadaan. Tapi dengan dorongan orang-orang yang kita cintai disekitar kita, semangat kita akan bangkit kembali dan meraih kemenangan.

Tambahan:
Jadi, jika Anda sedang down maka gunakanlah teman dan mintalah orang-orang dekat untuk memberi motivasi dan dorongan kepada Anda. Sebaliknya jika Anda merasakan teman atau orang dekat Anda sedang mengalami hal itu, maka pastikan Anda memberikan suatu kontribusi. Kontribusi banyak sekali bentuknya termasuk memotivasi dan mendorong mereka untuk bangkit adalah kontribusi yang luar biasa harganya.
READ MORE - Mengeluh, Menyerah dan Bangkit

Melewati Hari Dengan Penuh Makna

Kata Mutiara hari ini tentang: Melewati Hari Dengan Sejuta Makna. Saya tak tau siapa yang pertama kali mengucapkan kata ini, yang jelas saya sangat terkesan, dan semoga Anda juga dapat memaknai kata mutiara yang satu ini dengan cemerlang. Berikut ini seuntai kalimat yang diemailkan istri saya, karena dia memang saya minta untuk mencari materi untuk blog kata mutiara ini, hehe..

Rahasia terbesar dalam hidup adalah melewati hari ini dengan penuh makna tentang cinta, ilmu dan iman. Karena dengan cinta hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup menjadi mudah dan dengan iman hidup menjadi terarah.

Semoga seuntai kata mutiara, eh kalimat mutiara di atas bermanfaat dahsyat untuk Anda.
READ MORE - Melewati Hari Dengan Penuh Makna

Koleksi Artikel Motivasi, Inspirasi dan Penyemangat Hidup

Kata mutiara Bicara Bagaikan Perak Diam Bagaikan Emas ini berasal dari bahasa Inggris yaitu: Speech is silver, Silence is golden. Seperti halnya emas lebih berharga daripada perak, lebih sering kita lebih baik diam dari pada bicara jika hanya akan bikin tambah kisruh. Namun dalam situasi tertentu adakalanya juga kita lebih baik bicara dari pada diam saja, dari pada diam membisu, hehe. Sesuaikan dengan situasi Anda saja. Semakin bijak seseorang maka semakin tau juga dia, kapan perlu diam dan kapan perlu bicara. Semoga Anda dan saya semakin bijak.

Sekali lagi, kata mutiaranya adalah: Bicara Bagaikan Perak Diam Bagaikan Emas.
READ MORE - Koleksi Artikel Motivasi, Inspirasi dan Penyemangat Hidup